Fakta Deddy Candra Caleg Muda PDI Perjuangan, Bertekad Mengabdi untuk Lampung

Written By :

Category :

Berita, Daerah, Nasional, Pemilu

Posted On :

Share This :

MAPS :

Bandar Lampung – Dorongan merubah peradaban ke arah lebih baik dan positif hingga melawan praktik politik uang di tengah-tengah masyarakat Provinsi Lampung. Deddy Wijaya Candra (40) membulatkan tekad menapaki gelanggang kontestasi Pemilu 2024 sebagai bakal calon legislatif (Bacaleg) DPRD Provinsi Lampung.

Bung Deddy, sapaan akrabnya, mencalonkan diri sebagai wakil rakyat dari daerah pemilihan (dapil) 1 Kota Bandar Lampung melalui Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP).

Lalu siapa sosok Deddy Candra? Bagaimana kisahnya terjun ke dunia politik hingga memutuskan maju pada Pileg 2024? IDN Times berkesempatan mewawancari pria kini menjabat sebagai Wakil Ketua Bidang Pemuda dan Olahraga DPD PDIP Provinsi Lampung tersebut.

Deddy Wijaya Candra merupakan putra keturunan Tionghoa lahir 19 Juli 1983 silam. Ia tumbuh besar di kalangan keluarga pengusaha kuliner.

Kedua orang tuanya adalah pemilik restoran Mie Inti berada di Jalan Ikan Bawal, Kecamatan Telukbetung Selatan, Kota Bandar Lampung.

Usaha keluarga mulanya didirikan sang kakek sejak 1970 tersebut, kini masih terus eksis dilanjutkan dan dikembangkan Deddy Candra dengan membuka beberapa cabang di Kota Bandar Lampung.

“Itu papa mama generasi kedua, saya generasi ketiga yang masih tetap melanjutkan usaha keluarga ini,” ujarnya Sabtu (27/5/2023).

Sedangkan urusan pendidikan, Deddy Candra memulainya dari bangku sekolah SD Xaverius Pahoman 1989-1995. Kemudian dilanjutkan di SMP Xaverius Telukbetung 1995-1998 dan SMA Xaverius Pahoman 1998 – 2001.

“Selesai SMA, saya kuliah di Teknik Informatika Bina Nusantara (Binus), Jakarta jurusan Sarjana Komputer, lulus di 2005,” sambung dia.

Sejak bangku sekolah hingga perkuliahan, Deddy Candra juga dikenal aktif di sejumlah organisasi. Termasuk Organisasi Kemasyarakatan dan Pemuda (OKP) Gemabudhi di wilayah Provinsi Lampung, yang kemudian hari mengenalkannya pada dunia politik.

Diakui sekitar 8 tahun lalu, Deddy Candra mulanya tidak begitu tertarik dengan dunia politik. Padahal, waktu itu banyak partai politik coba meminang hingga menawari menjadi calon anggota legislatif.

Sampai pada akhirnya, pemuda kala itu masih berusia 31 tahun tersebut memutuskan berlabuh ke PDI Perjuangan, berkat campur tangan sosok Ketua DPD Sudin dan almarhum Bambang Suryadi.

“Mas Bambang menggaet saya berbeda dengan yang lain, bukan sekadar menawarkan nyaleg dan sebagainya, tapi beliau menceritakan ideologi sebuah pemikiran beliau. Baru pertemuan berikut ideologi PDI Perjuangan,” kenangnya.

Sejak saat itu, Deddy memutuskan bukan hanya sekadar berorganisasi melainkan juga aktif berpolitik. Tujuannya, guna mampu berbuat dan membantu banyak masyarakat dari berbagai latar belakang keturunan, agama, suku, hingga budaya.

“Saya ditawari beliau (Sudin dan Bambang Suryadi) maju di pencalegan 2019, tapi saya jawab. Saya ingin terjun dulu ke masyarakat, saya tidak ingin jadi anggota dewan karbitan dan gak tahu apa,” imbuhnya.

Lain hal memasuki pesta demokrasi 2024, Deddy telah membulatkan tekad maju pada Pileg mendatang untuk mewujudkan goal alias tujuan politiknya ialah. Bukan sekadar menjadi kader partai melainkan mampu memberikan pengaruh baik dan positif bagi masyarakat luas.

Bermodalkan gagasan mengusung perubahan peradaban di era reformasi serta mengembangkan potensi maupun sumber daya alam di bumi Lampung, hingga mengedepankan kunci kejujuran dalam proses pencalonan, ia meyakini mampu mendulang perolehan suara masyarakan. Tak terkeculi kalangan milenial dan Gen Z.

“Startegi saya pribadi yang penting kita jujur dan tidak berjanji, kalau berjanji kita akan punya utang. Jadi lebih baik saya berbicara pahit di depan tapi manis di belakang, lebih enak seperti itu. Jujur dan membuka diri,” ucapnya lugas.

Lebih lanjut diakui Deddy pencalegan memang membutuhkan kesiapan secara logistik. Walau begitu, sebagai caleg muda dikatakan logistik utama ialah kunjungan, silaturahmi, dan komuniskasi ke tengah-tengah masyarakat, bukan sekadar memamerkan alat peraga kampanye.

“Secara logistik, setiap orang nyaleg harus siap secara logistik. Contoh gampangnya, untuk mengkampanyekan diri kita paling simplenya kartu nama dan alat peraga lainnya, ini semua jelas perlu logistik. Ya kita harus siap, tapi yang terpenting turun ke rakyat,” lanjut dia.

Terkait pandangannya soal politik uang, Deddy menegaskan mengutuk keras praktik-praktik kotor tersebut. Menurutnya, kondisi itu tak ubah menyangkut soal transaksional mendulang suara rakyat dinilai bisa sangat membahayakan sistem politik Indonesia.

Sebagai alumni Sekolah Politisi Muda (SPM) Angkatan ke-6, Deddy menyebut, praktik politik uang jelas tidak memanusiakan manusia dikarenakan adanya upaya transaksional.

“Bayangkan, jika ada transaksional, pasti yang dipilih adalah sosok memiliki kesiapan logistik yang kuat. Apakah caleg tersebut pintar atau memiliki gagasan? Ini jelas dikesampingkan dan belum tentu memperjuangkan suara masyarakat. Hal-hal seperti ini yang coba saya terus pahami ke masyarakat,” tandasnya.